Ada 690.000 Kasus TB Tak Terlaporkan, Ini Tanggapan Kemenkes

Laporan hasil pelaksaan Joint External Monitoring Mission for Tuberculosis Control (JEMM TB) menyebut 690.000 kasus TB di Indonesia tidak terlaporkan. Kementerian Kesehatan pun memberikan tanggapan atas hasil temuan tersebut.

Menteri Kesehatan Prof Dr dr Nila Moeloek, SpM(K), menyebut secara umum, temuan yang disampaikan oleh JEMM TB tidak jauh berbeda dengan data yang dimiliki oleh pemerintah. Apalagi dalam laporan tersebut sudah disebutkan bahwa sebagian besar kasus yang tidak terlaporkan terjadi di sektor swasta.

“Yang 690.000 yang tidak terlaporkan itu dari sektor swasta ya, maksudnya dari klinik praktik swasta dan rumah sakit swasta. Memang ini salah satu masalah yang belum tuntas bagi kita. Tapi kita akan rangkul itu rumah sakit swasta dan klinik swasta untuk mereka supaya report kasus TB yang ditemukan,” tutur Prof Nila, dalam acara Debriefing JEMM 2017 di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (26/1/2017).

Lebih lanjut, Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Kemenkes, dr HM Subuh, MPPM, mengatakan bahwa sudah ada bentuk kerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terkait pelaporan kasus TB dari sektor swasta. Kemenkes sudah membagikan formulir yang diharapkan diisi oleh dokter-dokter praktik swasta terkait pasien TB yang berobat.

Langkah kedua adalah melakukan active case finding. Active case finding merupakan bentuk penerapan program Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) dengan cara mendatangi rumah-rumah warga yang sedang sakit. Diharapkan dengan adanya hal ini, kasus TB yang tidak terlaporkan akan berkurang.

“Jadi kita pecahkan itu gunung es TB-nya bersama-sama. Dan tidak hanya ditemukan saja, tapi ditemukan dan diobati sampai tuntas. Target WHO dunia bebas TB pada 2050, target kita lebih awal. Indonesia bebas TB tahun 2035,” tutur dr Subuh.

dr Subuh juga menyebut perbedaan instrumen survei merupakan penyebab adanya peningkatan jumlah kasus TB di Indonesia sejak tahun 2015. Hal ini terjadi karena setelah tahun 2015, instrumen survei yang dimiliki lebih sensitif sehingga kasus baru yang ditemukan lebih banyak.

“Dulu kan kita hanya ada satu pasien TB positif, kita obati. Sekarang kalau ada satu yang positif, keluarganya ya istrinya, ya anaknya, dites juga. Kalau hasilnya positif ya kita obat semua. Nanti semakin lama dengan temukan dan obati sampai sembuh, kasusnya akan perlahan-lahan berkurang,” tandasnya.